Di sebuah sekolah dasar di Kota Semarang, setiap Selasa pagi kini diawali dengan pemandangan yang tak biasa beberapa tahun lalu: anak-anak duduk rapi di halaman, membuka bekal berisi nasi, sayur, dan buah, sambil mendengarkan pengarahan dari guru UKS dan seorang siswa kelas 4 yang dijuluki “Kapten Gizi”.
Anak itu, dengan percaya diri, membacakan label gizi dari kemasan makanan yang ia bawa, dan menjelaskan kepada teman-temannya mengapa makanan itu sehat. Pemandangan ini kini menjadi hal biasa di 48 sekolah dasar dan madrasah ibtidaiyah yang tergabung dalam Program Pencegahan Kegemukan dan Obesitas Anak Usia Sekolah Dasar yang dijalankan oleh SPEAK Indonesia dan UNICEF Indonesia di Provinsi Jawa Tengah.
Program ini lahir dari keprihatinan mendalam terhadap angka kegemukan dan obesitas yang terus meningkat pada anak-anak. Data Survei Kesehatan Indonesia 2023 menunjukkan bahwa 13% anak usia 5–12 tahun di Jawa Tengah mengalami kelebihan berat badan, dan 8,3% tergolong obesitas. Angka-angka ini bukan sekadar statistik, melainkan peringatan bahwa perubahan gaya hidup dan pola makan anak Indonesia sudah mendesak untuk ditangani—dan sekolah menjadi titik awal yang strategis untuk itu.
Maka sejak tahun 2023 hingga 2024, SPEAK Indonesia bersama UNICEF memilih empat kabupaten/kota di Jawa Tengah sebagai wilayah implementasi program: Kota Semarang, Kota Surakarta, Kabupaten Kudus, dan Kabupaten Tegal. Sebanyak 48 sekolah dipilih sebagai sekolah model. Di sekolah-sekolah ini, pendekatan menyeluruh dilakukan, menyentuh semua sisi kehidupan siswa—dari pola makan, aktivitas fisik, hingga budaya sehat di lingkungan sekolah.
Program ini dimulai dengan membangun fondasi yang kuat melalui advokasi dan koordinasi lintas sektor. Di tiap kabupaten/kota, Tim Pembina UKS/M, dinas pendidikan, dinas kesehatan, kementerian agama, hingga fasilitator kabupaten dilibatkan sejak awal. Pertemuan koordinasi rutin dilakukan di tingkat provinsi dan kabupaten untuk menyepakati strategi, anggaran, SDM, serta langkah implementasi program. Pendekatan ini menjadi kunci yang memastikan semua pihak merasa memiliki program ini, bukan sekadar menjalankannya karena kewajiban administratif.
Setelah koordinasi yang matang, dilakukan serangkaian pelatihan yang menyasar berbagai elemen di sekolah. Sebanyak 97 guru dilatih untuk menyampaikan pendidikan gizi, 51 tenaga puskesmas dibekali keterampilan deteksi dini masalah gizi, dan 98 siswa kelas 4 dilatih menjadi Kapten Gizi—siswa penggerak yang ikut memfasilitasi pembelajaran dan kegiatan gizi di sekolah mereka.
Dengan dasar yang kuat, program pun masuk ke tahap implementasi langsung di sekolah. Di sinilah perubahan-perubahan nyata mulai terasa.
Setiap sekolah menyelenggarakan pendidikan gizi rutin sebanyak 36 sesi dalam setahun, difasilitasi guru dan Kapten Gizi. Materi pembelajaran yang dulunya terkesan teoritis, kini disampaikan dengan pendekatan yang lebih partisipatif dan menyenangkan. Anak-anak belajar membaca label makanan, mengenal kelompok makanan sehat, dan membuat menu bekal sendiri.
Selain itu, program sarapan sehat bersama dijalankan seminggu sekali. Kegiatan ini yang awalnya hanya diikuti siswa kelas 1–3, diperluas hingga kelas 4. Sebanyak 42 dari 46 sekolah target menjalankan kegiatan ini secara rutin. Orang tua siswa yang semula keberatan karena repot menyiapkan sarapan, perlahan mulai mendukung karena melihat perubahan nyata pada anak mereka—lebih semangat, lebih sehat, dan lebih aktif di sekolah.
Sementara itu, kantin sekolah juga didampingi untuk hanya menyediakan jajanan sehat. Pedagang dilatih, disosialisasikan tentang makanan bergizi, hingga dibentuk paguyuban. Sekolah-sekolah juga mulai menyelenggarakan market day—pameran jajanan sehat yang disiapkan dan dijual oleh siswa sendiri. Meski sempat terkendala oleh pergantian pedagang yang cukup sering, perlahan mulai terlihat perubahan: dari yang semula menjual makanan kemasan tinggi gula, kini beralih ke jajanan lokal seperti ubi rebus, salad buah, dan cemilan berbasis sayur.
Lingkungan sekolah pun ikut bertransformasi. 45 dari 46 sekolah memanfaatkan lahan sekolah untuk kebun sayur dan buah. Sekolah yang tak punya kebun memanfaatkan pot, galon, hingga plastik bekas. Bahkan beberapa sekolah mulai mencoba metode hidroponik. Kegiatan berkebun ini tidak hanya menjadi bagian dari praktik gizi, tapi juga menyenangkan bagi siswa dan mendidik soal ketahanan pangan sejak dini.
Tak kalah penting adalah aspek aktivitas fisik. Kini, sekolah-sekolah rutin menyelenggarakan senam bersama seminggu sekali, jalan sehat sebulan sekali, serta permainan tradisional seperti gobag sodor, engklek, dan ular tangga. Di waktu istirahat, anak-anak kini lebih banyak bergerak. Sekolah bahkan menambah sarana olahraga ringan seperti pull-up bar. 48 sekolah telah menjalankan pendekatan ini secara konsisten.
Untuk menjaga kesehatan lebih lanjut, program ini juga memastikan bahwa obat cacing diberikan 2 kali setahun, disertai pemeriksaan kesehatan berkala. Puskesmas mendampingi guru UKS dalam pemberian obat dan pelaporan kondisi anak. Pemeriksaan mencakup tinggi badan, berat badan, gigi, kebersihan rambut, kuku, hingga telinga. Data yang dikumpulkan digunakan untuk tindak lanjut terhadap siswa yang membutuhkan pemeriksaan lanjutan.
Salah satu puncak dari semangat sehat di sekolah adalah kompetisi daring antar sekolah, yang melibatkan 24 karya dari 20 sekolah. Anak-anak membuat video tentang peregangan dan kampanye jajanan sehat, yang diunggah melalui platform digital. Kompetisi ini tidak hanya mengasah kreativitas, tetapi juga menjadi sarana berbagi praktik baik antar sekolah.
Di balik semua kegiatan ini, SPEAK Indonesia mencatat beberapa faktor kunci keberhasilan: kepemimpinan kepala sekolah yang kuat, pelatihan fasilitator yang mendalam, dukungan kebijakan melalui Surat Edaran Kemendikbud, serta komitmen multisektor melalui TP UKS/M. Tapi yang paling menyentuh, tentu saja, adalah perubahan nyata yang terjadi di tingkat anak.
Seorang guru dari Kudus menceritakan, “Awalnya siswa tidak suka membawa bekal karena mereka lebih suka jajanan. Tapi setelah belajar tentang gizi, mereka jadi suka membawa sayur dan buah. Bahkan ada yang membantu ibunya menyiapkan bekal pagi-pagi.”
Puskesmas juga merasakan manfaatnya. Data dari hasil pemeriksaan kini lebih lengkap, intervensi terhadap anak bermasalah gizi menjadi lebih cepat dan tepat. Di lima Puskesmas, deteksi dan penanganan kasus gizi kini sudah menjadi bagian dari sistem yang berkelanjutan.
Perjalanan ini bukan akhir, tapi awal dari perubahan yang lebih luas. SPEAK Indonesia melihat bahwa sekolah bisa menjadi pusat transformasi gaya hidup sehat anak-anak Indonesia. Apa yang dimulai di 48 sekolah ini adalah praktik baik yang bisa ditiru, dikembangkan, dan disebarluaskan ke seluruh Indonesia.
Kami percaya, membangun generasi sehat bukan hanya soal memberikan makanan bergizi, tetapi juga membangun kebiasaan, pengetahuan, dan lingkungan yang mendukung. Dan tidak ada tempat yang lebih tepat untuk memulai itu selain dari sekolah.